Laporan Light Trap KKL Alas Purwo 2017 (Kelompok 21)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Taman Nasional Alas Purwo berada di ujung timur pulau Jawa. Tepatnya di kecamatan Tegal delimo Kabupaten Banyuwangi. Alas Purwo merupakan suaka marga satwa sekaligus Taman Nasional dengan luas 430.420 Ha. Taman Nasional Alas Purwo merupakan suatu ekosistem hutan tropis dataran rendah yang di dalamnya terdapat vegetasi hutan pantai, hutan mangrove, hutan tropis dataran rendah (hutan heterogen), dan sebagian hutan tanaman, padang rumput, dan hutan bambu. Hutan pantai terdiri dari dua daerah yang berbeda, yaitu hutan mangrove dan hutan campuran (Odum, 1993). Hutan mangrove terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan campuran pohonnya selalu hijau dan tinggi dengan keanekaragaman yang tinggi, karena curah hujan tinggi, kandungan humus tinggi, dan penyinaran matahari lebih lama.
Keanekaragaman hewan yang paling tinggi dimiliki oleh serangga. Keanekargaman serangga dapat disebabkan oleh adanya keanekaragaman sumber daya alam seperti sumber makanan dan topografi alam. Penelitian tentang jumlah dan macam jenis serangga khususnya serangga malam yang dilakukan memiliki manfaat agar dapat mengkonservasi hewan infauna yang berada di Alas Purwo.
1.2  Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul dan materi pada laporan ini, rumusan masalah yang disediakan oleh penyaji yakni.
1.      Bagaimana jenis-jenis serangga malam yang terdapat di Hutan Pantai Taman nasional Alas Purwo Banyuwangi berdasarkan jam biologisnya?
2.      Spesies apa yang mendominasi di Hutan Triangulasi pada jalur kanan?
3.      Bagaimana keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan jenis hewan tanah di hutan pantai Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi?
1.3  Tujuan
Sesuai dengan judul dan materi pada laporan ini, rumusan masalah yang disediakan oleh penyaji yakni.
1.      Untuk mengetahui jenis-jenis serangga malam yang terdapat di Hutan Pantai Taman nasional Alas Purwo Banyuwangi berdasarkan jam biologisnya
2.      Untuk mengetahui spesies yang mendominasi di Hutan Triangulasi pada jalur kanan.
3.      Mengetahui keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan jenis hewan tanah di hutan pantai Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.
1.4 Ruang Lingkup
Sesuai dengan judul dan materi pada laporan ini, batasan yang disediakan oleh penyaji yakni,
1.      Subyek penelitian berada hanya dilajur sebelah kanan Hutan Triangulasi Alas Purwo.
2.      Dilakukan pada waktu yang berbeda.
3.      Serangga yang diamati hanya berupa serangga malam saja.
1.5 Definisi Operasional
1.      Keanekaragaman hayati adalah ketersediaan keanekaragaman sumber daya hayati berupa jenis maupun kekayaan plasma nutfah (keanekaragaman genetik di dalam jenis), keanekaragaman antarjenis dan keanekaragaman ekosistem (Sudarsono dkk, 2005).
1.      Kemerataan adalah cacah individu masing-masing spesies dalam unit komunitas (Dharmawan, dkk., 2005)
2.      Kekayaan adalah jumlah spesies penyusun komunitas (Dharmawan, dkk., 2005)






bab ii
tinjauan pustaka
2.1 Taman Nasional Alas Purwo
Taman Nasional Alas Purwo merupakan suatu kawasan pelestarian alam di Indonesia yang terletak di kecamatan Tegaldelimo dan kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi.  Secara geografis terletak di ujung timur pulau jawa wilayah pantai selatan antara 8o25’ - 8o47’ LS, 114o20’- 114o36’ BT. Taman Nasional Alas Purwo ditetapkan sebagai Taman Nasional sejak tahun 1993 dengan luas wilayah sekitar 43.420 ha yang terdiri dari beberapa zonasi yaitu: zona inti (sanctuary zone), seluas 17.200 ha, zona rimba (wilderness zone) seluas 24.767 ha, zona pemanfaatan  intensive use zone) seluas 250 ha, zona penyangga (buffer zone) seluas 1.203 ha. Taman Nasional Alas Purwo merupakan kawasan konservasi yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Alas Purwo.
2.2 Morfologi Serangga
Serangga tergolong dalam filum Arthropoda, sub filum Mandibulata, kelas Insekta. Insekta memiliki eksoskeleton yang berfungsi melindungi organ-organ dalam. Ruas yang membangun tubuh serangga terbagi atas tiga bagian yaitu, kepala (caput), dada (toraks) dan perut (abdomen). Sesungguhnya serangga terdiri dari tidak kurang dari 20 segmen. Enam Ruas terkonsolidasi membentuk kepala, tiga ruas membentuk thoraks, dan 11 ruas membentuk abdomen serangga dapat dibedakan dari anggota Arthropoda lainnya karena adanya 3 pasang kaki (sepasang pada setiap segmen thoraks) (Hadi, 2009). Pada serangga terjadi tiga pengelompokkan segmen, yaitu kepala, dada, dan perut, secara umum satu daerah kesatuan ini disebut tagma. Prostomium (suatu bagian terdepan yang tidak bersegmen) bersatu dengan kepala sedangkan periprok (bagian terakhir tubuh yang tidak bersegmen) bersatu dengan perut. Pada bagian depan (frontal) apabila dilihat dari samping (lateral) dapat ditentukan letak frons, clypeus, vertex, gena, occiput, alat mulut, mata majemuk, mata tunggal (ocelli), postgena, dan antena, Sedangkan toraks terdiri dari protorak, mesotorak, dan metatorak. Dada terdiri dari 3 ruas, dan pada dada tersebut terdapat tiga pasang kaki yang beruas-ruas. Sayap terdapat pada bagian ini dan pada umumnya ada dua pasang yang terletak di mesotoraks dan metatorak. Sayap serangga tumbuh dari dinding tubuh yang terletak dorso-lateral antara nota dan pleura. Pada sayap terdapat pola tertentu dan sangat berguna untuk identifikasi (Borror dkk, 1992). Perut terdiri atas 6 sampai 11 ruas (ruas belakang posterior digunakan sebagai alat reproduksi). Pada beberapa serangga betina , terdapat alat untuk melepaskan telur serta kantung untuk menampung sperma (Aziz,2008). Serangga memiliki skeleton yang berada pada bagian luar tubuhnya (eksoskeleton). Rangka luar ini tebal dan sangat keras sehingga dapat menjadi pelindung tubuh, yang sama halnya dengan kulit kita sebagai pelindung luar. Pada dasarnya, eksoskeleton serangga tidak tumbuh secara terus-menerus. Pada tahapan pertumbuhan serangga eksoskeleton tersebut harus ditanggalkan untuk menumbuhkan yang lebih baru dan lebih besar lagi (Hadi, 2009).
Alat pencernaan terdiri atas bagian muka, bagian tengah, dan bagian belakang. Mulut memiliki kelenjar ludah. Jantung berbentuk gilig dan mempunyai anterior aorta tetapi tidak memiliki pembuluh darah kapiler dan vena, coelom teredusir menjadi haeocoel. Respirasi dengan system trachea yang berupa saluran yang berdinding gelang kutikula  dan bercabang-cabang sehingga sampai pada semua bagian tubuh sebelah dalam. Dengan demikian udara yang mengandung oksigen akan sampai pada bagian dalam dan terjadilah proses pengambilan oksigen secara langsung. Alat ekskresi terdiri atas dua atau lebih badan yang membentuk tabung yang disebut dengan buluh malphigi. System saraf terdiri atas ganglion-ganglion pada tiapruas. Seks terpisah yakni ada individu jantan dan ada individu betina. Pembuahan terjadi di dalam tubuh, ova banyak mengandung yolk dan pada fase terakhir akan terbentuk cangkang (Jasin, 1984).
2.4 Klasifikasi Serangga
Serangga diklasifikasikan menjadi dua subklas, yaitu Apterygota dan Pterygota (Kastawi 1994). Dasar pengklasifikasian ini adalah pada ada tidaknya sayap. Menurut Kastawi, dua subclass tersebut ada 33 ordo dan 12 diantaranya ditemukan di Indonesia, yaitu sebagai berikut.
v Ordo Orthoptera
Hewan yang tergolong ordo ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a.    Memiliki ukuran tubuh 4-75 mm
b.    mempunyai dia sayap, sayap depan panjang menyempit dan sayap belakang meleba
c.    Hewan tersebut memiliki tipe mulut penggigit dan pengunyah.
d.    Hewan jantan mempunyai alat penghasil suara yang terletak di dada.
e.    Contoh serangga yang tergolong dalam ordo ini adalah Blatella gertnatica.
v Ordo Dermaptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut,
a.    Tubuh pipih dan berukuran 4-30 mm
b.    Bersifat hemimetabola
c.    Mulut bertipe pengunyah
d.   Tidak bersayap atau dengan 1-2 sayap (sayap depan kecil seperti kulit, sayap belakang seperti selaput, dan melipat di bawah depan bila sedang hinggap)
e.    Hewan jantan mempunyai catut yang kokoh
f.     Aktif pada malam hari (nocturnal)
g.    Contoh spesies dalam ordo ini yaitu Farficula  dan Anisolabis maritime
v Ordo Mecoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini memiliki cirri-ciri sebagai berikut,
a.    Tubuh ramping dengan kuran 1-35 mm
b.    Bersifat holometabola
c.    Mulut bertipe pengunyah
d.   Antenna dan kaki panjang dengan kepala memanjang
e.    Tidak bersayap atau memiliki dua pasang sayap yang panjang, sempit dan berupa membran
f.     Mempunyai organ penjepit yang terletak di ujung posterior abdomen dan organ tersebut menyerupai organ penyengat pada kalajengking
g.    Makanan berupa buah dan serangga yang mati
h.    Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Panorpa rufescens dan Hyloittacus picalis.
v Ordo Plecoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut,
a.    Ukuran tubuh 6-10 mm
b.    Sayap dua pasang, ada yang bersayap panjang dan ada yang bersayap pendek
c.    Antenna panjang, tubuh kunak dan bersifat liemimetabola
d.   Mulut bertipe pengunyah (tetapi tidak berkembang pada saat dewasa)
e.    Nympha bersifat akuatik dan memiliki bekas insang tracheal yang terletak di posterior setiap pasang kaki
f.     Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Allocapnia pygmae dan Cilloperla clio.
v Ordo isoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut,
a.    Ukuran tubuh 6-13 mm
b.    Sayap dua pasang (sayap depan dan belakang memiliki bentuk dan ukuran yang sama)
c.    Tipe mulut penggigit dan pengunyah yang memiliki cerci dua ruas
d.   Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Zootermopsis nevademis dan Termites.
v Ordo Odonata
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut,
a.    Ukuran tubuh 19-75 mm
b.    Bersifat homometabola
c.    Mulut pada hewan dewasa bersifat pengunyah
d.   Memiliki dua pasang sayap berwujud membran
e.    Antenna pendek, kaki dan abdomen panjang dan ramping
f.     Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Macromia magnified dan Dragonflies.
v Ordo Hemiptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut,
a.    Ukuran tubuh 1-66 mm
b.    Antenna panjang, mulut bertipe penghisap yang muncul di depan kepala
c.    Parasit pada hewan vertebrata
d.   Memiliki dua pasang sayap seperti membran
e.    Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Gerris remigis dan Mesove uiamusanti.
v Ordo Trichoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut,
a.    Ukuran tubuh 9-22 mm
b.    Sayap seperti selaput, berambut dan bersisik
c.    Antenna panjang dan ramping
d.   Tipe mulut penggigit
e.    Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Macromemum cebratum.
v Ordo Lepidhoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut,
a.    Ukuran tubuh 3-35 mm
b.    Bersifat holometaboal
c.    Tidak memiliki mandibula, mata besar, memiliki dua pasang sayap yang seperti membran
d.   Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Calpodes ethlius dan Pyrulis frinalis.
v Ordo Coleoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut,
a.    Ukuran tubuh 0,5-125 mm
b.    Sayap depan keras dan tebal menanduk, sedangkan sayap belakang bersifat membranous
c.    Tipe mulut penggigit
d.   Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Adalia bipimctat dan Hydrophillus teriangiilaris.
v Ordo  Hymenoptera
Serangga yang termasuk dalam ordo ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut,
a.    Ukuran tubuh 5-40 mm
b.    Sayap satu pasang seperti selaput
c.    Bersifat holometabola
d.   Mulut tipe pengunyah atau penghisap
e.    Contoh spesies yang tergolong dalam ordo ini adalah Formica sp.
2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keanekaragaman
Faktor-faktor yang mempengaruhi keanekarangaman ada enam dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1.    Faktor Iklim
Unsur iklim sangat menentukan berbagai jenis keanekaragaman hayati di Indonesia. Unsur-unsur iklim yang berpengaruh kelangsungan hidup tumbuhan dan hewan adalah temperature, udara, kelembapan angin, dan curah hujan.
2.    Faktor kompetisi
Peran kompetisi mempengaruhi kekayaan spesies yang digambarkan melalui hubungan relung antar spesies (Widagdo, 2002). Faktor ini sangat penting dalam evolusi karena merupakan persyaratan habitat untuk hewan dan tumbuhan menjadi lebih terbatas dan makanan untuk hewan juga menjadi sedikit. Komunitas di daerah tropis memiliki lebih banyak spesies karena memiliki relung yang kecil dan overlap relung yang tinggi.
3.    Faktor waktu
Irawan (1999) menyebutkan bahwa waktu mempengaruhi kematangan suatu komunitas selama perubahan waktu suatu organisme akan berkembang dan mengalami proses keanekaragaman menjadi lebih baik. Ditambahkan lagi bahwa keanekaragaman ini merupakan produk evolusi. Pada daerah tropis memiliki keanekaragaman yang lebih meleimpah jika dibandingan dengan keanekaragaman yang berada di daerah kutub..
4.    Faktor predasi
Predasi dan kompetisi sama-sama mempengaruhi keanekaragaman spesies. Dalam komunitas yang kompleks dan mendukung banyak spesies, interaksi yang dominan adalah predasi, sedangkan dalam komunitas sederhana yang dominan adalah kompetisi. Keberadaan predator dan parasit dapat menekan populasi mangsa sampai pada tingkat yang sangat rendah. Adanya pengurangan kompetisi memungkinkan bertambahnya suatu spesies sehingga akan mendukung munculnya predator baru.
5.    Faktor produktivitas
Stabilitas dari produktivitas mempunyai pengaruh utama terhadap keanekaragaman spesies dalam komunitas. Semakin besar produktivitasnya, maka keanekaragamannya juga semakin besar (Widagdo, 2002). Namun tidak selalu benar kalau semakin rendah produktivitasnya maka keanekaragamannya juga semakin rendah.












BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan penelitian
            Penelitian ini tergolong dalam penelitian deskriptif eksploratif. Data tentang keanekaragaman serangga malam di hutan pantai Triangulasi Taman diperoleh dengan menggunakan suatu metode jebakan Light Trap, yakni memanfaatkan sinar lampu dan mika untuk memancing serangga malam.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Kegiatan praktikum ini dilakukan pada tanggal 23 Maret 2017 tepatnya di hutan pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo. Pemasangan jebakan (lampu dan mika) dilaksanakan pada pukul 18.30-00.30 WIB.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah semua jenis serangga malam yang ada di hutan pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo pada jalur kanan. Sampel penelitian berupa serangga malam yang diperoleh melalui jebakan light trap yang dipasang pada pukul 18.30 dan diambil setiap dua jam sekali sampai pukul 00.30 WIB.
3.4 Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan sebagai berikut:
·      Seperangkat alat light trap (plastik besar, lampu, paralon)
·      Kabel roll
·      Botol film (plakon)
·      Kuas kecil
·      Vacum serangga
·      Mikroskop stereo
·      Aki
·      Roll meter
2. Bahan yang digunakan sebagai berikut.
·      Tali rafia
·      Larutan formalin atau alkohol
·      Amplop
·      Kertas label
·      ATK
·      Buku
3.5 Prosedur Kerja
Adapun cara kerja yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.      Memasang kabel, pitting dan lampu yang telah terhubung arus listrik.
2.      Memasang seperangkat alat light trap.
3.      Mengamati dan mengambil serangga malam yang terjebak light trap  menggunakan botol plakon pada pukul 18.30, 20.30, 22.30, dan 00.30 WIB.
4.      Memindahkan spesimen dari tol plakon ke amplop.
5.      Memberikan label/ identitas pada amplop.
6.      Melakukan pengamatan di laboratorium biologi menggunakan mikroskop stereo dan kunci determinasi serangga.
7.      Melakukan kompilasi data serangga malam yang diperoleh dengan semua kelompok.
8.      Memasukkan data yang diperoleh ke dalam table data light-trap.
3.6    Sketsa
 



                                                                             Jarak antar Plot
 






3.7 Teknik Pengumpulan Data
Tabel Keanekaragaman dan Kemerataan Fauna Tanah di kawasan hutan pantai Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi
Jam 18.30
No
Taksa
Stasiun
S
1
2
3
......
1






2
3
4






Dst






Total












Jam 20.30
No
Taksa
Stasiun
S
1
2
3
......
1






2
3
4






Dst






Total












Jam 22.30
No
Taksa
Stasiun
S
1
2
3
......
1






2
3
4






Dst






Total














Jam 00.30
No
Taksa
Stasiun
S
1
2
3
......
1






2
3
4






Dst






Total












3.8 Teknik Analisa Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan cara sebagai berikut: Indeks keanekaragaman pada masing-masing habitat dihitung dengan cara:
a.         Indeks keanekaragaman Shanon – Wiener

Keterangan: 
Pi = n/N
H’      : Indeks keanekaragaman Shanon – Wiever
ni       : Nilai rata-rata masing-masing spesies
N       : Jumlah total nilai rata-rata spesies dalam sampel
(Ludwig dan Reynolda, 1998 dalam Irawan, 1999)
b.        Selanjutnya menghitung nilai indeks kemerataan (Evennes) dengan rumus:
Keterangan: 
E       : Indeks kemerataan evennes
H’      : Indeks keanekaragaman Shanon – Wiever
S        : Jumlah spesies (n1, n2, n3, …..)
(Irawan, 1999)
c.         Selanjutnya dihitung nilai kekayaan dengan menggunakan rumus indek Richness:
Keterangan: 
R       : Indeks Richness
 (Ludwig dan Reynolda, 1998 dalam Irawan, 1999)
d.      Untuk mengetahui dominansi suatu spesies dilakukan perhitungan nilai dominansi sebagai berikut:


        C = Æ© ()2

Keterangan:  D    : Dominansi spesies
n    : Jumlah individu masing-masing spesies
N   : Total individu dalam pengambilan sampel\
C   : Indeks Dominansi
                    (Odum, 1993)



BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Data pengamatan
Waktu: 18.30
 No.
 Nama Spesies
 Jumlah
Agrioglypta sp)
21
Amphicyrta dentipes)
2
Anisoptera
1
Arthroschista sp.
1
Blattela germanica)
4
Blattodea
1
Celastrina
1
Centrodora sp
1
Cephidae sp
1
Crysiptya coclesalis
4
Ctenicera noxia)
1
Eleodes suturalis
1
Episyron quinquenotatus
13
Leptosia nina
2
Mainertellidae
1
Pareuchaetes
1
Salma sp.
1
Tabanus snicifrosis)
1
Trachelus tabidatus)
9
Jumlah

67

Waktu: 20.30
 No.
 Nama Spesies
 Jumlah
Aphelinus sp
1
Arthroschistia hilaralis Walker
2
Auplopus carbonarius
2
Blaberidae sp.
1
Chrysops univittatus Macquart
1
Diapheromera sp
3
Dissosteira sp.
2
Eoophyla crassicornalis Guenee)
1
Episyron quinquenotatus
3
Gryllus sp.
1
Heterocampa guttivitta
4
Horse fly
1
Hylaeus sp
1
Megachile sp
1
Monophadnoides osaoodi
1
Ostrinia furnacalis
1
Phyllophage portoricensis Smythe
1
Polistes metricus
2
Priocnemis
1
Pteromalidae sp
1
Spiriverpa lunulata
1
Tetrastichus bruchophagi)
6
Jumlah

38

Waktu 22.30
 No.
 Nama Spesies
 Jumlah
Acthiophysa sp.
1
Caenurgina sp.
1
Copableparon sp.
1
Diachlorus sp.
2
Falita sp.
1
Myrmica
4
Photuris sp.
1
Jumlah

11


Waktu 00.30
 No
Nama Spesies 
 Jumlah
Aedes communis
1
Alphina glauca
2
Aphidolestes
1
Caenurgina sp.
1
Cicada sp.
1
Dissosteira sp.
4
Dolichopus
1
Hetorus
1
Largus succinetus
1
Myrmica
1
Ochlerotatus fulvus palens
1
Ochlerotatus japanicus
1
Ogcodes sp.
1
Oligotoma nigra
2
Panoquina lucas
1
Rhagio sp.
2
Tibicien pruinosa
1
Tiphiid waes
1
Tobacco hornworm
1
Tropidopteptes pacificus
4
Jumlah

29











4.2 Analisis Data
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, dilakukan analisis mengenai indeks keanekaragaman (H’), kemerataan (E), dan kekayaan (R), dari spesies serangga malam di Hutan Pantai Taman Nasional Alas Purwo.
Waktu Pengambilan
H’
E
R
C
16.30-18.30
2,251
0,764
4,281
0,166
18.30-20.30
2,889
0,935
5,773
0,069
20.30-22.30
1,768
0,908
2,502
0,207
22.30-00.30
2,841
0,949
5,643
0,07
Tabel 4.1 Tabel Indeks Keanekaragaman, Kemerataan dan Kekayaan Serangga Malam di Hutan Pantai Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi

Grafik 4.1 Grafik Nilai Indeks Keanekaragaman Hewan Tanah di Hutan Pantai Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.

Grafik 4.2.     Grafik Nilai Indeks Kemerataan Hewan Tanah di Hutan Pantai Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.

Grafik 4.3. Grafik Nilai Indeks Kekayaan Hewan Tanah di Hutan Pantai Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.

Grafik 4.4. Grafik Nilai Indeks Dominansi Hewan Tanah di Hutan Pantai Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.




















BAB V
PEMBAHASAN
5.1    Jenis-Jenis Serangga Malam yang Terdapat di Hutan Pantai Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi Berdasarkan Jam Biologis
Hutan Triangulasi Alas Purwo memiliki spesies serangga yang beraneka ragam. Serangga-serangga tersebut memiliki jam biologis masing-masing seperti pada spesies Episyron quinquenotatus yang tertangkap pada jam 18.30 dan jam 20.30. Dari hasil tangkapan menggunakan light trap tertangkap 67 taksa dari serangga malam yakni Acthiophysa sp, Aedes communis, Agrioglypta sp, Alphina glauca, Amphicyrta dentipes, Anisoptera sp, Aphelinus sp, Aphidolestes sp, Arthroschista sp, Arthroschistia hilaralis Walker, Auplopus carbonarius, Blaberidae sp, Blattela germanica, Blattodea, Caenurgina sp., Celastrina, Centrodora sp, Cephidae sp, Chrysops univittatus Macquart, Cicada sp., Copableparon sp., Crysiptya coclesalis, Crysiptya coclesalis Walker, Ctenicera noxia, Diachlorus sp., Diapheromera sp., Dissosteira sp., Dolichopus, Eleodes suturalis, Eoophyla crassicornalis Guenee, Episyron quinquenotatus, Falita sp., Gryllus sp., Heterocampa guttivitta, Hetorus, Horsefly, Hylaeus sp, Largus succinetus, Leptosia nina, Mainertellidae, Megachile sp, Monophadnoides osaoodi, Myrmica sp., Ochlerotatus fulvuspalens, Ochlerotatus japanicus, Ogcodes sp, Oligotoma nigra, Ostrinia furnacalis, Panoquina lucas, Pareuchaetes, Photuris sp., Phyllophage portoricensis Smythe, Polistes metricus, Priocnemis sp., Pteromalidae sp, Rhagio sp., Salma sp., Spiriverpa lunulata, Tabanus snicifrosis, Tabanus sp., Tetrastichus bruchophagi, Tibicien pruinosa, Tiphiid waes, Tobacco hornworm, Trachelus tabidatus, dan Tropidopteptes pacificus.
Serangga malam hari (nocturnal) adalah hewan yang tidur pada siang hari, dan aktif pada malam hari. Serangga nokturnal umumnya memiliki kemampuan penglihatan yang tajam. Serangga nocturnal dapat melihat gelombang cahaya yang lebih panjang daripada manusia dan dapat memilah panjang gelombang cahaya yang berbeda-beda. Panjang gelombang cahaya dari 300-400 nm (mendekati ultraviolet) sampai 600-650 nm (orange). Diduga bahwa serangga tertarik pada ultraviolet karena cahaya itu merupakan cahaya yang diabsorbsi oleh alam terutama oleh daun (Borror dkk, 1996). Serangga malam memiliki aktifitas optimal bila suhu telah turun. Hal ini berkaitan dengan fisiologis serangga sebagai organisme poikiloterm yang suhu tubuhnya berubah sesuai dengan lingkungannya, sehingga sangat mungkin bagi serangga akan kehilangan panas tubuhnya pada malam hari. Sehingga berbagai mekanisme pertahanan diri perlu dilakukan oleh serangga untuk mempertahankan suhu tubuhunya, salah satunya adalah dengan beraktivitas di malam hari. 
Banyaknya jenis serangga malam ini umumnya ditunjang oleh faktor-faktor yang memungkinkan serangga dapat bertahan dan berkembang biak pada daerah tersebut. Beberapa faktor yang memungkinkan hal tersebut anatara lain iklim. Pada umumnya peningkatan keragaman dapat terjadi dengan semakin mendekati daerah tropis. Price (1997), menjelaskan bahwa Keragaman organisme di daerah tropis lebih tinggi dari pada di daerah sub tropis hal ini disebabkan daerah tropis memiliki kekayaan jenis dan kemerataan jenis yang lebih tinggi daripada daerah subtropis. Lingkungan fisik yang lebih heterogen dan kompleks dapat menghasilkan komunitas binatang dan tanaman yang lebih kompleks dan beragam, dengan demikian semakin mendekati daerah tropis jumlah habitat akan semakin meningkat. Tingginya padat populasi dan keragaman habitat di daerah tropis kemungkinan disebabkan oleh kondisi iklim yang cenderung stabil. Stabilitas iklim dapat mendukung peningkatan keragaman tanaman, sehingga meningkatkan keragaman serangga. Faktor kedua yakni ketesediaan sumber pangan. Keragaman yang tinggi di daerah hutan tropis disebabkan oleh ketidak mampuan spesies untuk berkembang dominan di tanah dengan status nutrisi yang sangat rendah. Status nutrisi yang rendah ditentukan oleh suhu dan curah hujan yang tinggi dengan konsekuensi daur ulang atau pencucian nutrisi yang cepat. Karena terbatasnya nutrisi, spesialisasi niche ditingkatkan dan sebagai hasilnya lebih banyak spesies yang berkoeksistensi.
5.2    Spesies yang Mendominasi di Hutan Triangulasi pada Jalur Kanan
Pada hasil pengamatan dan telah dilakukan penghitungan, spesies yang mendominasi Hutan Triangulasi pada jalur kanan yakni Agrioglypta sp. Agrioglypta sp. memiliki nilai dominansi sebesar 31,34328%. Alasan mengapa Agrioglypt sp mendominasi daerah tersebut yakni karena memiliki masa reproduksi yang cept jika dibandingkan dengan serangga yang lainnya. Stabilitas dari produktivitas mempunyai pengaruh utama terhadap keanekaragaman spesies dalam komunitas. Semakin besar produktivitasnya, maka keanekaragamannya juga semakin besar (Widagdo, 2002).
5.3 Keanekaragaman, Kemerataan, dan Kekayaan Serangga Malam di Kawasan Hutan Pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi
Berdasarkan hasil analisis data tentang keanekaragaman serangga malam, diperoleh kecenderungan rata-rata nilai indeks keanekaragaman yang hampir sama pada keempat waktu pengambilan sampel, yaitu pada pukul 18.30 WIB, 20.30 WIB, 22.30 WIB, dan 00.30 WIB. Pengambilan sampel pukul 18.30 WIB diperoleh indeks keanekaragaman sebesar 2,251, pengambilan pukul 20.30 WIB 2,889, pengambilan pukul 22.30 WIB 1,768 sedangkan pengambilan pukul 00.30 WIB diperoleh indeks keanekaragaman yang lebih rendah yaitu sebesar 2,841.
Hal ini berarti indeks keanekaragam yang tertinggi diperoleh pada pengambilan sampel pukul 20.30 WIB, dan indeks keanekaragaman terendah diperoleh pada pukul 22.30 WIB. Sedikitnya indeks keanekaragaman pada pengambilan sampel pada pukul 22.30 WIB ini dimungkinkan karena terdapat kehilangan data pada salah satu kelompok sehingga terjadi perbedaan yang sangat besar dari indeks keanekaragaman pada jam yang lain
Kemerataan serangga malam di hutan pantai Triangulasi kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Dari hasil analisis data didapatkan bahwa untuk keempat waktu pengambilan yaitu pengambilan pukul 18.30 WIB, 20.30 WIB, 22.30 WIB, dan 00.30 WIB diperoleh indeks kemerataan yang hampir sama besarnya. Pada pengambiln pukul 18.30 WIB diperoleh indeks kemerataan sebesar 0,764, pengambilan pukul 20.30 WIB diperoleh kemerataan sebesar 0,935, pengambilan pukul 22.30 WIB indeks kemerataannya sebesar 0,908, sedangkan untuk pengambilan pada pukul 00.30 WIB diperoleh indeks kemerataan yang lebih kecil yaitu sebesar 0,949.  Rendahnya indeks kemerataan pada pengambilan sampel pukul 18.30 WIB ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban oksigen, pH, dan cahaya sudah mengalami perubahan dari sore ke malam. Sehingga hanya jenis-jenis serangga tertentu saja yang muncul dan dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan di malam hari. Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Widagdo (2002) bahwa waktu menekankan pentingnya peran semua parameter lingkungan seperti suhu, kelembaban, salinitas, oksigen, dan pH.
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh indeks kekayaan (R) tertinggi pada pengambilan sampel pukul 18.30 WIB yaitu sebesar 4,281, pada pengambilan pukul 20.30 WIB indeks kekayaannya sebesar 5,773, pengambilan pukul 22.30 WIB indeks kekayaan sebesar 2,502, dan pada pengambilan pukul 00.30 WIB indeks kekayaannya sebesar 5,643. Indeks kekayaan tertinggi terletak pada jam 22.30. Hal ini berkaitan dengan pengaruh kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban. Hal ini sesuai dengan teori bahwa hewan secara aktif akan berpindah dari lingkungan satu ke lingkungan lain apabila terjadi perubahan lingkungan sementara (Widagdo, 2002). Jadi dari peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa jumlah kekayaan dari suatu spesies di suatu daerah ditemtukan oleh faktor lingkungan.






BAB VI
PENUTUP
6.1  Kesimpulan
1.      Ditemukan 67 spesies serangga malam di Hutan Pantai Taman nasional Alas Purwo Banyuwangi yangs setiap spesiesnya memiiki jam biologis masing-masing.
2.      Spesies yang mendominasi Hutan Triangulasi pada jalur kanan yakni Agrioglypta sp. yang memiliki nilai dominansi sebesar 31,34328%.
3.      Nilai indeks keanekaragaman tertinggi terletak pada jam 20.30 WIB sedangkan terendah pada jam 22.30. Nilai indeks kemerataan tertinggi terletak pada jam 00.30 sedangkan terendah pada jam 18.30. Nilai indeks kekayaan tertinggi terletak pada jam 20.30 sedangkan terendah pada jam 22.30.
6.2  Saran
Sebaiknya untuk pengambian serangga dalam keadaaan yang hening agar serangga yag didapatkan tidak kabur.




Komentar

  1. Oke rozi laporannya lengkap bagus buat bacaan ... keep writing

    BalasHapus
  2. sudah baus,namun lebih diperhatikan penulisannya ya agar lebih rapi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer