Laporan Molusca Kelompok 21

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
            Taman Nasional Alas Purwo yang bertempat di Kabupaten Banyuwangi merupakan kawasan yang digunakan sebagai kawasan pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian sumber daya alam, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Letak geografis kawasan Taman Nasional Alas Purwo terletak di ujung Timur pulau Jawa, tepatnya berada di Kecamatan Tegal Dlimo, Kabupaten Banyuwangi, dengan luas 433.420 Ha. Tempat ini merupakan cagar alam dan suaka margasatwa yang dapat digunakan sebagai media dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian SDA.     Taman Nasional Alas Purwo merupakan suatu ekosistem hutan tropis dataran rendah yang di dalamnya terdapat vegetasi hutan pantai, padang rumput, dan hutan bamboo yang mendominasi 40% dari luas kawasan. Menurut Dharmawan (2004) ekosistem lahan basah di Alas Purwo yang terdiri dari hutan mangrove dan hutan perairan laguna, yang secara fungsional kedua ekosistem ini saling berinteraksi.
            Daerah pasang surut merupakan pengaruh komponen-komponen yang ada dalam hutan mangrove. Di daerah pasang surut ini secara langsung ataupun tidak langsung akan saling berinteraksi dengan komponen-komponen yang ada dalam hutan mangrove baik berbagai komponen biotik maupun abiotiknya. Berbagai komponen biotik tersebut akan saling berinteraksi membentuk suatu populasi. Berbagai komponen biotik dan abiotik di daerah pasang surut akan membentuk suatu rangkaian proses dekomposisi melalui suatu rantai makanan yang hasilnya merupakan makanan bagi komponen biotik laguna, yaitu berbagai jenis Mollusca, decapoda, dan berbagai mikroba. Rangkaian proses tersebut dapat diketahui dari kepadatan organisme yang terdapat di tempat tersebut, dan merupakan indikator dalam memprediksi adanya unsur hara yang terkandung di dalamnya (Odum, 1993).            Ciri-ciri Mollusca secara umum adalah tubuh lunak dan tidak berbuku-buku biasanya tubuh bercangkok (berubah) dari zat kapur, hewan ini ada yang hidup di darat, di air tawar dan ada pula yang hidup di laut, tubuh simetri bilateral, jenis kelamin umumnya terpisah, tetapi dapat juga hermaprodit, cangkang dibentuk oleh mantel, badan terdiri dari kepala, kaki dan massa jerohan, kaki termodifikasi untuk merayap, berenang bahkan untuk menangkap makanan (Kastawi, 2001).

1.2 Rumusan Masalah
1.       Jenis mollusca apa saja yang ditemukan di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi?
2.      Bagaiamana Keanekaragaman (H’), Kemerataan (E), dan Kekayaan (R) Mollusca tertinggi dan terendah pada keseluruhan zona di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi?
3.      Spesies apakah yang mendominasi pada setiap zona?
1.3 Tujuan
  1. Mengetahui jenis-Jenis Mollusca apa saja yang kita temukan di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi
  2. Mengetahui Keanekaragaman (H’), Kemerataan (E), dan Kekayaan (R) Mollusca tertinggi dan terendah  pada keseluruhan zona di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.
  3. Mengetahui spesies yang mendominasi pada setiap zona.

1. 4 Ruang Lingkup
1.    Spesies yang diamati adalah mollusca bercangkang
2.    Teknik pengambilan data mengggunakan metode transek
3.    Sampel spesies yang diambil, dimasukkan kedalam botol plakon
1. 5 Definisi Operasional
1.      Molluska adalah golongan hewan yang bertubuh lunak tidak beruas dan tubuh dilindungi oleh satu atau lebih cangkang yang terbuat dari kapur (CaCO3), namun ada pula yang tidak memiliki cangkang. Cangkang ini dibentuk oleh lapisan dinding tubuh yang disebut mantel. Tubuhnya tersusun dari tiga lapisan embrional yaitu ekstoderm, mesoderm dan endoderm (bersifat triploblastik). Hewan ini memiliki coelem yang sempit. Sebagian besar moluska hidup di laut tetapi banyak juga yang hidup di air tawar bahkan beberapa hidup di darat (Kastawi, 2001).
2.      Keanekaragaman adalah tingkat jumlah individu (spesies yang ada) dalam suatu tempat dan kondisi.
3.      Kemerataan adalah tingkat penyebaran suatu individu di berbagai tempat yang berbeda.
4.      Kekayaan adalah banyaknya suatu individu dal suatu wilayah.
5.      Dominasi adalah spesies yang paling dominan dalam suatu tempat.

           



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Mollusca
Molluska (dalam bahasa latin, molluscus = lunak) adalah golongan hewan yang bertubuh lunak tidak beruas dan tubuh dilindungi oleh satu atau lebih cangkang yang terbuat dari kapur (CaCO3), namun ada pula yang tidak memiliki cangkang. Cangkang ini dibentuk oleh lapisan dinding tubuh yang disebut mantel. Tubuhnya tersusun dari tiga lapisan embrional yaitu ekstoderm, mesoderm dan endoderm (bersifat triploblastik). Hewan ini memiliki coelem yang sempit. Sebagian besar moluska hidup di laut tetapi banyak juga yang hidup di air tawar bahkan beberapa hidup di darat (Kastawi, 2001).

2.2 Klasifikasi Mollusca
Menurut Kastawi (2001) mollusca dibagi kedalam 7 kelas yakni :
a. Kelas Gastropoda
Biasanya disebut siput dan bekicot. siput (Lymnea) dan bekicot (Achatina) kedua hewan ini adalah jenis hewan kelas Gastropoda. Jenis hewan ini juga ada yang hidup di laut, air tawar dan banyak pula yang hidup di darat. Gastropoda merupakan kelas Mollusca yang terbesar dan populer. Ada sekitar 60.000 jenis/spesies Gastropoda yang masih hidup dan 15.000 jenis yang telah menjadi fosil. Karena banyaknya jenis Gastropoda, maka hewan ini mudah ditemukan. 

b. Kelas Chepalopoda
Tubuh Cephalopoda dilindungi oleh cangkok, kecuali Nautillus. Yang termasuk kelas Cephalopodacumi-cumi (Loligo), sotong (Sepia) dan gurita (Octopus) disebut jenis Cephalopoda. Cephalopoda berasal dari kata cephale artrinya kepala, sedangkan podos artinya kaki adalah Mollusca yang berkaki di kepala. Cumi-cumi dan sotong memiliki 10 tentakel yang terdiri dari 2 tentakel panjang dan 8 tentakel lebih pendek.


c. Kelas Bivalvia (Pelecypoda)
Hewan Bivalvia ialah berbagai jenis kerang, remis dan kijing. Bisa hidup di air tawar, dasar laut, danau, kolam, atau sungai yang lainnya banyak mengandung zat kapur. Zat kapur ini digunakan untuk membuat cangkoknya. Hewan ini memiliki dua kutub (bi = dua, valve = kutub)  tubuh berbentuk pipih secara lateral dan seluruh tubu tertutup dua keping cangkang yang berhubungan di bagiandorsl dengan adanya “hinge ligament” yaiyu semacam pita elastik yang terdiri dari bahan organik seprti zat tanduk conchiolin sama dengan periostrakum, bersambung dengan periostrakum cangkang.sehingga disebut Bivalvia. Kelas ini mempunyai dua cangkok yang dapat membuka dan menutup dengan menggunakan otot aduktor dalam tubuhnya. Cangkok ini berfungsi untuk melindungi tubuh. Cangkok di bagian dorsal tebal dan di bagian ventral tipis. Kepalanya tidak nampak dan kakinya berotot.
d. Kelas Scaphopoda
Dentalium vulgare adalah salah satu contoh kelas Scaphopoda. Jika Anda berjalan-jalan di pantai, hati-hati dengan cangkang jenis Scaphopoda ini. Karena biasanya hewan ini tumbuh di batu atau benda laut lainnya yang berbaris menyerupai taring. Coba Anda amati gambar hewan berikut ini!
Dentalium vulgare hidup di laut dalam pasir atau lumpur. Hewan ini juga memiliki cangkok yang berbentuk silinder yang kedua ujungnya terbuka. Panjang tubuhnya sekitar 2,5 s.d 5 cm. Dekat mulut terdapat tentakel kontraktif bersilia, yaitu alat peraba. Fungsinya untuk menangkap mikroflora dan mikrofauna. Sirkulasi air untuk pernafasan digerakkan oleh gerakan kaki dan silia, sementara itu pertukaran gas terjadi di mantel. Hewan ini mempunyai kelamin terpisah.
e. Kelas Aplacophora
            Aplacophora dalam bahasa yunani yakni plax: lempengan, sehingga anggota kelas ini memiliki ciri tubuhnya tidak memiliki cangkang. Tubuh berbentuk seperti cacing pada umumnya berukuran 2, 5 cm, namun ada yang panjang tubuhnya 5 mm. Tubuh memiliki sisik kalakareus dan spikula sebagai pengganti cangkang. Anggota kelas aplacophora berjumlah 300 spesies. Hewan ini ditemukan di lautan pada kedalaman 7000 m atau pada kedalaman 200- 3000 m. Sebagaian besar hewan ini berjalan perlahan di dasarlaut dan juga ditemukan meillit pada hydroid atau karang lunak yang merupakan makanannya. Umumnya Aplacophora bersifat hemafrodit
f. Kelas Monoplacophora
            Karakteristik anggota kelas monoplacophora yaitu memiliki sebuah cangkang dan bersifat simetri bilateral. Pada awalnya monoplacophora satu kelompok dengan gastropoda, namun karena cangkang gastropoda memiliki 2 otot etraktor kaki, sedangkan monoplacophora memiliki 3 sampai 8 pasang sehingga diklasifiklasikansendiri. Bentuk cangkang bervariasi, ada yang pipih, perisai, atau bentuk kerucut pendek. Panjang tubuh 3 mm sampai 3 cm. ujung apek cangkang melengkung ke anterior. Hewan ini berkelamin terpisah dengan 2 pasang gonad yeng terletak pada pertengahan tubuh. Fertilisasi terjadi secara eksternal, namun perkembangan selanjutnya belum diketahui.
g. Kelas Polyplacophora
            Karakteristik hewan polyplacophora yaitu meiliki banyak cangkang. Jumlah spesies yang hidup sampai saat ini berjumlah 800 spesies. Contoh hewan polyplacophora yaitu chiton. Ukuran tubuh chiton bervariasi mulai 3mm sampai 40 cm, namun umumnya berukuran 3- 12 cm. spesies chiton yang memiliki ukuran tubuh terbesar adalah Cryptochiton stelleri. Bentuk tubuh chiton oval, pipih dorso-ventral dan dibagian dorsal tubuh dilindung delapan keping cangkang yang tersusun tumpang tindih. Cangkang tersebut tersusun atas dua lapisan yaitu tegmentum (lapisan luar) dan artikulamentum (lapisan dalam).

2.3 Letak Geografis Taman Alas Purwo (Pantai Pancur)
            Taman Nasional Alas Purwo (Pantai Pancur) adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Secara geografis terletak di ujung tenggara Pulau Jawa wilayah pantai selatan antara 8°26’45”–8°47’00” LS dan 114°20’16”–114°36’00” BT.



2.4 Pola Penyebaran dan Faktor Abiotik Mollusca
Penyebaran hewan Mollusca sangat luas dan umumnya memiliki kesamaan pola dasar tubuh. Mollusca adalah salah satu jenis organisme yang memiliki rentangan habitat yang cukup lebar mulai dari dasar laut sampai garis pasang surut tertinggi. Selain itu ada yang hidup di air tawar bahkan terkadang ditemukan di habitat terestrial, khususnya yang memiliki kelembaban tinggi. Sifat hidup Mollusca bervariasi, ada yang hidup bebas namun beberapa spesies lainnya bersifat parasit pada organisme lain. Keberagaman spesies yang ditemukan pada suatu wilayah tertentu menunjukkan kondisi positif keberlangsungan makhluk hidup dari jenis tersebut (Nurhadi,1999).
Komunitas lingkungan yang bagus mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi dari pada komunitas yang dipengaruhi oleh gangguan-gangguan musiman atau secara periodik oleh manusia dan alam (Nazlim, 1999).
            Mollusca memiliki kapasitas adaptasi yang tinggi sehingga penyebarannya sangat luas, baik di darat maupun di perairan, mulai dari perairan yang dangkal termasuk pantai, estuaria adalah perairan tawar sampai kedalaman laut yang tidak dapat ditembus cahaya matahari. Keberadaan hewan Mollusca ini tergantung pada variasi faktor lingkungan habitatnya (Asiyah, 1999). Lingkungan pantai selalu berubah–ubah karena pasang surut sehingga banyak ditemukan variasi kehidupan dalam jumlah spesies maupun organismenya (Darmawan, 2004).
Komunitas lingkungan yang mantap mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi daripada komunitas yang dipengaruhi oleh gangguan-gangguan musiman atau secara periodik oleh manusia dan alam (Odum,1993). Perbedaan kepadatan jenis mollusca antar lokasi menggambarkan kesesuaian jenis mollusca terhadap kondisi fisik, kimia pada masing-masing lokasi (Nurhadi, 1999).
Kondisi lingkungan yang cocok atau tidak bagi kehidupan mollusca akan terlihat dalam bentuk akhir yaitu mengenai kelimpahan organisme ini dalam hal kekayaan pada lokasi tersebut (Nazlim, 1999).
Mollusca ini banyak terdapat di lumpur, pasir, dan di danau. Dimana pada lumpur, pasir, dan danau ini banyak mengakumulasi bahan organik yang dapat dijadikan sebagai bahan makanan. Mollusca ini biasanya menguburkan diri dan pada saat tertentu mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain, hal ini berkaitan dengan adaptasi untuk mendapatkan makanan guna melangsungkan hidupnya dan juga untuk menghindari diri dari predator (Nurhadi, 1999). Mollusca ini dapat hidup pada suhu yang berkisar antara 0-40 karena pada suhu itu hewan mampu hidup aktif, sedangkan untuk pH 4.5-5, dan untuk kelembaban serta salinitas hewan ini dapat hidup pada kondisi yang normal (Asiyah, 1999).
Faktor Abiotik Yang Mempengaruhi Keberagaman Organisme Di Zona Intertidal yaitu suhu, substrat, salinitas, pH, kelembaban,  aksi ombak dan arus.
Sedangakan Faktor Biotik Yang Mempengaruhi Keberagaman Organisme Di Zona Intertidal :
1.      Potensial biotik pada fase-fase tertentu selalu akan mengalami hambatan oleh berbagai macam persaingan yang antara lain berupa persaingan (kompetisi), predasi, penyakit, sumber daya makanan (Asiyah, 1999).
2.      Adanya interaksi yang bersifat persaingan sering melibatkan ruangan, unsur hara, bahan-bahan buangan atau sisa penyakit dan sebagainya dan banyak tipe interaksi timbal balik bersama (Odum, 1993).
3.      Dominansi hewan pantai yang menguasai ruang tertentu, suatu saat akan diambil alih oleh spesies yang lain karena adanya predator hewan, dominan yang pertama. Sehingga secara efektif predator akan mencegah dan mengurangi, mendominasikan pertama yang menempati seluruh ruang (Odum, 1993).







BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
            Waktu             : Sabtu, 25 Maret 2017
            Tempat            : Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo
3.2 Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
·      Plastik sampel
·      Botol plakon
·      Tali rafia
·      Pinset
·      Kuadrat 1 x 1
·      pH meter
·      Multiparameter
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
·           Akuades

3.3 Teknik Pengumpulan Data
            Langkah pertama yaitu menentukan lokasi pengambilan sampel dengan langkah sebagai berikut :
1.      Menentukan tempat pengambilan sampel. Dalam penelitian ini ditentukan 5 zona dalam 24 transek
2.      Setelah menentukan transek untuk setiap kelompok kemudian menarik garis lurus yang dijadikan sebagai batas transek
3.      Dari transek tersebut dibuat 3 plot yang berukuran 1 x 1 m dengan jarak antar plot 1 m
Langkah yang kedua yaitu cara pengambilan sampel dengan langkah sebagai berikut :
1.      Mengambil sampel pada tiap plot dengan mencatat tiap jenis Mollusca yang ditemukan dan dihitung jumlahnya
2.      Untuk keperluan identifikasi diambil hanya satu spesies yang ditemukan dan dimasukkan ke dalam botol plakon dan ditandai dengan huruf abjad
Langkah yang ketiga yaitu pengukuran abiotik dengan langkah sebagai berikut :
1.      Mengukur faktor abiotiknya seperti suhu, DO, salinitas, kekeruhan, pH, intensitas cahaya, dan kecepatan angin.
Langkah yang terakhir yaitu pembuatan hasil laporan dengan langkah seperti berikut :
1.      Mengidentifikasi spesies yang sudah ditemukan
2.      Mengadakan kompilasi data dan membuat laporan hasil penelitian
3.4 Teknik Analisis Data
Dari hasil penelitian dianalisis secara statistik untuk mendapatkan :
1.      Indeks Keanekaragaman Shannon dan Wienner (H)
H` = -
Keterangan :
H = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner
N  = Total semua jenis individu dalam komunitas
ni  = Jumlah indivdu jenis ke – i
pi  = Kelimpahan proporsional
2.      Nilai Evennes atau kemerataan (E)
E =
Keterangan :
E   = Evenness atau kemerataan
H = Indeks keanekaragaman
S   = Jumlah spesies
3.  Nilai Richness atau kekayaan (R)
R =
Keterangan :
R  = Richness atau kekayaan
S   = Banyaknya spesies
N  = Total semua jens individu dalam komunitas
Text Box: D3.5 Sketsa
 


 


BAB IV
DATA DAN ANALISIS
4.1 Hasil Pengamatan
            Data yang dipaparkan berikut merupakan data yang telah dikompilasi dan telah dihitung satu angkatan. Dari hasil didapatkan dari pengambila sampel, didapatkan data per zona sebagai berikut :
Tabel 4.1.1. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Besar
No.
Nama Spesies
Jumlah
1.
Planaxis sulcatus
28
2.
Nerita undata
219
3.
Hexaplex sp
30
4.
Nerita planospira
236 (Dominasi)
5.
Nertita sp 1
128
6.
Conusebraeus sp.
19
7.
Monodonta sp.
15
8.
Patella sp.
10
9.
Nerita sp 2
7
10.
Chlamys sp.
3
11.
Cymatium dolarium
6
12.
Cellana sp.
1
13.
Lyria sp.
4
14.
Ovatella sp.
2
15.
Trochus sp.
9
Total
717




Tabel 4.1.2 Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Besar
Suhu
34,6°C
DO
0,81
Salinitas
3 gr/100 Nacl
Kekeruhan
45 mg/C
pH
-
Intensitas Cahaya
337 x 100
Konduktivitas
-
Kecepatan Angin
2,23 m/s
Kelembaban
61,50%

Tabel 4.1.3. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Kecil
No.
Nama Spesies
Jumlah
1.
Mitra litterata
2
2.
Fulgiconus exiguus bougei
3
3.
Planaxis sulcatus
45
4.
Nerita undata
74
5.
Caminella sp.
34
6.
Hexaplex sp
5
7.
Nerita planospira
75 (Dominasi)
8.
Astraea sp.
4
9.
Nertita sp 1
10
10.
Conusebraeus sp.
1
11.
Monodonta sp.
7
12.
Patella sp.
3
13.
Nerita sp 2
24
14.
Enigma sp.
5
15.
Patella barbara
2
Total
294




Tabel 4.1.4 Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Kecil
Suhu
32,47°C
DO
6,81
Salinitas
4,7 gr/100 Nacl
Kekeruhan
12,67 mg/C
pH
-
Intensitas Cahaya
434 x 100
Konduktivitas
-
Kecepatan Angin
1,99

Tabel 4.1.5. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Alga
No.
Nama Spesies
Jumlah
1.
Mitra litterata
15
2.
Fulgiconus exiguus bougei
2
3.
Planaxis sulcatus
21
4.
Nerita undata
25
5.
Hexaplex sp
12
6.
Nerita planospira
5
7.
Nertita sp 1
5
8.
Conusebraeus sp.
3
9.
Monodonta sp.
6
10.
Patella sp.
60 (Dominasi)
11.
Nerita sp 2
3
12.
Cypraea stercoraria
1
13.
Lyria sp. 1
2
Total
162

Tabel 4.1.6 Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Alga
Suhu
39,1°C
DO
8,4
Salinitas
4,0 gr/100 Nacl
Kekeruhan
4 mg/C
pH
8,08
Intensitas Cahaya
303 x 100
Konduktivitas
-
Kecepatan Angin
2,93

Tabel 4.1.7. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Lempeng
No.
Nama Spesies
Jumlah
1.
Fulgiconus exiguus bougei
2
2.
Nerita undata
160
3.
Caminella sp.
1
4.
Hexaplex sp
19
5.
Nerita planospira
215 (Dominasi)
6.
Astraea sp.
1
7.
Monodonta sp.
7
8.
Patella sp.
173
9.
Nerita sp 2
14
10.
Chlamys sp.
5
11.
Enigma sp.
22
12.
Meretrix sp.
1
13.
Ranella sp.
1
14.
Cymatium dolarium
14
15.
Strombus sp.
1
Total
641

Tabel 4.1.8 Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Lempeng
Suhu
31°C
DO
23,7
Salinitas
4,0 gr/100 Nacl
Kekeruhan
9 mg/C
pH
8,39
Intensitas Cahaya
448 x 100
Konduktivitas
-
Kecepatan Angin
3,21




Tabel 4.1.9. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Berlamun
No.
Nama Spesies
Jumlah
1.
Fulgiconus exiguus bougei
9
2.
Planaxis sulcatus
15
3.
Nerita undata
28 (Dominasi)
4.
Caminella sp.
2
5.
Hexaplex sp
15
6.
Nerita planospira
11
7.
Astraea sp.
2
8.
Patella sp.
13
9.
Enigma sp.
3
10.
Cypraea stercoraria
2
Total
100

Tabel 4.1.10 Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Berlamun
Suhu
31,86°C
DO
6,83
Salinitas
4,67 gr/100 Nacl
Kekeruhan
12,67 mg/C
pH
12,87
Intensitas Cahaya
232 x 100
Konduktivitas
-
Kecepatan Angin
1,99

Tabel 4.1.11 Ringkasan Indeks Keanekaragaman, Kemerataan, dan Kekayaan Setiap Zona
No
Zona
H’
E
R
1.
Batu Besar
1,749366303
0,645987398
2,129253006
2.
Batu Kecil
2,018842256
0,745496614
2,463236301
3.
Batu Alga
2,012889
0,76273
2,555234
4.
Batu Lempeng
1,64684
0,593972
2,320893
5.
Batu Lamun
1,990229
0,864345279
1,954325169







BAB V
PEMBAHASAN
5. 1 Jenis Spesies yang Ditemukan
            Pada setiap zona ditemukan beberapa spesies, beberapa ada pada setiap zona, dan lainnya hanya ditemukan pada satu zona. Spesies yang ditemukan sebagai berikut. Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp., Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp, Patella sp., Nerita sp 2, Chlamys sp., Cymatium dolarium, Cellana sp. Lyria sp., Ovatella sp., Trochus sp., Mitra litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Planaxis sulcatus, Caminella sp, Astraea sp., Enigma sp., Cypraea stercoraria, Meretrix sp., Strombus sp., Ranella sp. Hal ini  menunjukkan bahwa Pantai Pancur Alas Purwo memiliki biodiversitas molusca yang cukup banyak. Nurhadi (1999) menyatakan keberagaman spesies yang ditemukan pada suatu wilayah tertentu menunjukkan kondisi positif keberlangsungan makhluk hidup dari jenis tersebut.
5. 2 Keanekaragaman
Bedasarkan hasil analisis keanekeragaman mollusca tertinggi yang terdapat pada Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi berada pada batu kecil yakni  sebesar 2,018842256 dan terendah yakni batu lempeng sekitar 1,64684. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai keanekaragamannya (H’) semakin besar diversitas spesies dalam komunitas. Tingginya kenekaragaman jenis mollusca pada zona batu kecil didukung oleh adanya kondisi lingkungan abiotik terukur seperti salinitas, pH, suhu, dan kedalaman substrat yang relatif normal pada zona ini. Kondisi ini tentunya akan lebih cocok atau sesuai bagi kehidupan mollusca yang ada di dalamnya.
Menurut Odum (1993) komunitas lingkungan yang mantap mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi daripada komunitas yang dipengaruhi oleh gangguan-gangguan musiman atau secara periodik oleh manusia dan alam. Hal ini menunjukkan bahwa zona batu kecil memiliki komunitas mollusca yang lebih stabil dibanding zona yang lain.
5.3 Kemerataan
            Berdasarkan hasil analisis data nilai kemerataan tertinggi yakni berada pada zona berlamun sekitar 0,864345279 dan terendah pada zona batu lembpeng sekitar 0,593972. Tingginya nilai kemerataan pada zona tersebut menunjukkan bahwa kondisi lingkungan dikatakan heterogen. Munculnya perbedaan kemerataan antar semua zona berarti setiap jenis mollusca yang ditemukan memiliki kesesuaian yang berbeda terhadap kondisi lingkungan yang ditempatinya. Kadar jumlah tertentu yang berbeda setiap spesies pada zona berlamun ini memiliki komposisi yang setimbang, sehingga kemerataannya paling tinggi diantara zona lain. Nurhadi (1999) menyatakan bahwa perbedaan kepadatan jenis mollusca antar lokasi menggambarkan kesesuaian jenis mollusca terhadap kondisi fisik, kimia pada masing-masing lokasi. Zona dengan kemerataan jenis tertinggi menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di setiap zona-zona tersebut merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan jenis mollusca yang bersangkutan.
5.4 Kekayaan
            Bedasarkan hasil analisis data pada nilai kekayaan tertinggi molusca yakni pada zona batu beralga sekitar 2,555234 dan terendah yakni pada zona batu lamun sekitar 1,954325169.   Tingginya kekayaan jenis mollusca pada zona batu beralgar didukung oleh adanya kondisi lingkungan abiotik terukur seperti salinitas, pH, suhu, dan kedalaman substrat yang relatif normal pada zona ini. Kondisi ini tentunya lebih cocok atau sesuai bagi kehidupan mollusca yang ada di dalamnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nazlim (1999) bahwa kondisi lingkungan yang cocok atau tidak bagi kehidupan mollusca akan terlihat dalam bentuk akhir yaitu mengenai kelimpahan organisme ini dalam hal kekayaan pada lokasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa zona batu beralga memiliki komunitas mollusca yang lebih stabil dibanding zona yang lain.
5.5 Dominansi spesies
            Pada seluruh zona dominansi berasal dari genus Nerita khususnya Nerita planospira yakni mendominasi pada zona batu besar, batu kecil, batu lempeng, Nerita undata pada zona batu berlamun, tetapi pada zona batu beralga didominasi oleh Patella sp. Menurut Nazlim (1999) komunitas lingkungan yang bagus mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi dari pada komunitas yang dipengaruhi oleh gangguan-gangguan musiman atau secara periodik oleh manusia dan alam. Hal ini menunjukkan bahwa pada spesies yang ternyata memiliki jumlah yang tinggi memiliki komunitas Mollusca yang lebih stabil dibanding spesies yang lain.






BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1.      Spesies yang ditemukan pada pantai pancur seperti berikut yakni : Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp., Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp, Patella sp., Nerita sp 2, Chlamys sp., Cymatium dolarium, Cellana sp. Lyria sp., Ovatella sp., Trochus sp., Mitra litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Planaxis sulcatus, Caminella sp, Astraea sp., Enigma sp., Cypraea stercoraria, Meretrix sp., Strombus sp., Ranella sp.
2.      - Keanekeragaman mollusca tertinggi yang terdapat pada Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi berada pada batu kecil yakni  sebesar 2,018842256 dan terendah yakni batu lempeng sekitar 1,64684.
- Kemerataan tertinggi yakni berada pada zona berlamun sekitar 0,864345279 dan terendah pada zona batu lembpeng sekitar 0,593972.
- Kekayaan tertinggi molusca yakni pada zona batu beralga sekitar 2,555234 dan terendah yakni pada zona batu lamun sekitar 1,954325169.
3.        - Nerita planospira mendominasi pada zona batu besar, batu kecil, batu lempeng.
- Nerita undata pada zona batu berlamun.
- Patella sp. mendominasi zona batu beralga.
6.2 Saran
1.      Sebaiknya waktu pengamatan dilakukan pada waktu yang sesuai dan diperhitungkan agar proses mencari mollusca bisa maksimal
2.      Sebaiknya alat abiotik yang digunakan harus lengkap.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer