Laporan Molusca Kelompok 21
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar
Belakang
Taman
Nasional Alas Purwo yang bertempat di Kabupaten Banyuwangi merupakan kawasan
yang digunakan sebagai kawasan pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian
sumber daya alam, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Letak geografis
kawasan Taman Nasional Alas Purwo terletak di ujung Timur pulau Jawa, tepatnya
berada di Kecamatan Tegal Dlimo, Kabupaten Banyuwangi, dengan luas 433.420 Ha.
Tempat ini merupakan cagar alam dan suaka margasatwa yang dapat digunakan
sebagai media dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian SDA. Taman Nasional Alas Purwo merupakan suatu
ekosistem hutan tropis dataran rendah yang di dalamnya terdapat vegetasi hutan
pantai, padang rumput, dan hutan bamboo yang mendominasi 40% dari luas kawasan.
Menurut Dharmawan (2004) ekosistem lahan basah di Alas Purwo yang terdiri dari
hutan mangrove dan hutan perairan laguna, yang secara fungsional kedua
ekosistem ini saling berinteraksi.
Daerah pasang surut merupakan
pengaruh komponen-komponen yang ada dalam hutan mangrove. Di daerah pasang
surut ini secara langsung ataupun tidak langsung akan saling berinteraksi
dengan komponen-komponen yang ada dalam hutan mangrove baik berbagai komponen
biotik maupun abiotiknya. Berbagai komponen biotik tersebut akan saling
berinteraksi membentuk suatu populasi. Berbagai komponen biotik dan abiotik di
daerah pasang surut akan membentuk suatu rangkaian proses dekomposisi melalui
suatu rantai makanan yang hasilnya merupakan makanan bagi komponen biotik
laguna, yaitu berbagai jenis Mollusca, decapoda, dan berbagai mikroba.
Rangkaian proses tersebut dapat diketahui dari kepadatan organisme yang
terdapat di tempat tersebut, dan merupakan indikator dalam memprediksi adanya
unsur hara yang terkandung di dalamnya (Odum, 1993). Ciri-ciri Mollusca secara umum adalah tubuh lunak dan
tidak berbuku-buku biasanya tubuh bercangkok (berubah) dari zat kapur, hewan
ini ada yang hidup di darat, di air tawar dan ada pula yang hidup di laut,
tubuh simetri bilateral, jenis kelamin umumnya terpisah, tetapi dapat juga
hermaprodit, cangkang dibentuk oleh mantel, badan terdiri dari kepala, kaki dan
massa jerohan, kaki termodifikasi untuk merayap, berenang bahkan untuk menangkap
makanan (Kastawi, 2001).
1.2 Rumusan Masalah
1.
Jenis mollusca apa saja yang ditemukan di
Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi?
2.
Bagaiamana Keanekaragaman
(H’), Kemerataan (E), dan Kekayaan (R) Mollusca tertinggi dan terendah pada
keseluruhan zona di Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi?
3.
Spesies apakah yang
mendominasi pada setiap zona?
1.3 Tujuan
- Mengetahui
jenis-Jenis Mollusca apa saja yang kita temukan di Pantai Pancur Taman
Nasional Alas Purwo Banyuwangi
- Mengetahui
Keanekaragaman (H’), Kemerataan (E), dan Kekayaan (R) Mollusca tertinggi
dan terendah pada keseluruhan zona di
Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.
- Mengetahui
spesies yang mendominasi pada setiap zona.
1. 4 Ruang Lingkup
1. Spesies yang diamati adalah mollusca bercangkang
2. Teknik pengambilan data mengggunakan metode transek
3. Sampel spesies yang diambil, dimasukkan kedalam botol
plakon
1. 5 Definisi Operasional
1.
Molluska adalah golongan hewan yang bertubuh lunak tidak beruas
dan tubuh dilindungi oleh satu atau lebih cangkang yang terbuat dari kapur
(CaCO3), namun ada pula yang tidak memiliki cangkang. Cangkang ini dibentuk
oleh lapisan dinding tubuh yang disebut mantel. Tubuhnya tersusun dari tiga
lapisan embrional yaitu ekstoderm, mesoderm dan endoderm (bersifat
triploblastik). Hewan ini memiliki coelem yang sempit. Sebagian besar moluska
hidup di laut tetapi banyak juga yang hidup di air tawar bahkan beberapa
hidup di darat (Kastawi, 2001).
2. Keanekaragaman adalah tingkat jumlah individu (spesies
yang ada) dalam suatu tempat dan kondisi.
3. Kemerataan adalah tingkat penyebaran suatu individu di
berbagai tempat yang berbeda.
4. Kekayaan adalah banyaknya suatu individu dal suatu
wilayah.
5. Dominasi adalah spesies yang paling dominan dalam suatu
tempat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Mollusca
Molluska (dalam
bahasa latin, molluscus = lunak) adalah
golongan hewan yang bertubuh lunak tidak beruas dan tubuh dilindungi oleh satu
atau lebih cangkang yang terbuat dari kapur (CaCO3), namun ada pula yang tidak
memiliki cangkang. Cangkang ini dibentuk oleh lapisan dinding tubuh yang
disebut mantel. Tubuhnya tersusun dari tiga lapisan embrional yaitu ekstoderm,
mesoderm dan endoderm (bersifat triploblastik). Hewan ini memiliki coelem yang
sempit. Sebagian besar moluska hidup di laut tetapi banyak juga yang hidup di
air tawar bahkan beberapa hidup di darat
(Kastawi, 2001).
2.2
Klasifikasi Mollusca
Menurut Kastawi (2001) mollusca
dibagi kedalam 7 kelas yakni :
a. Kelas Gastropoda
Biasanya disebut siput dan bekicot. siput
(Lymnea) dan bekicot (Achatina) kedua hewan ini adalah jenis hewan kelas
Gastropoda. Jenis hewan ini juga ada yang hidup di laut, air tawar dan banyak
pula yang hidup di darat. Gastropoda merupakan kelas Mollusca yang terbesar dan
populer. Ada sekitar 60.000 jenis/spesies Gastropoda yang masih hidup dan
15.000 jenis yang telah menjadi fosil. Karena banyaknya jenis Gastropoda, maka
hewan ini mudah ditemukan.
b. Kelas Chepalopoda
Tubuh Cephalopoda dilindungi oleh cangkok,
kecuali Nautillus. Yang termasuk kelas Cephalopodacumi-cumi (Loligo), sotong
(Sepia) dan gurita (Octopus) disebut jenis Cephalopoda. Cephalopoda berasal
dari kata cephale artrinya kepala, sedangkan podos artinya kaki adalah Mollusca
yang berkaki di kepala. Cumi-cumi dan sotong memiliki 10 tentakel yang terdiri
dari 2 tentakel panjang dan 8 tentakel lebih pendek.
c. Kelas Bivalvia
(Pelecypoda)
Hewan Bivalvia ialah berbagai jenis kerang,
remis dan kijing. Bisa hidup di air tawar, dasar laut, danau, kolam, atau
sungai yang lainnya banyak mengandung zat kapur. Zat kapur ini digunakan untuk
membuat cangkoknya. Hewan ini memiliki dua kutub (bi = dua, valve = kutub) tubuh berbentuk pipih secara lateral dan
seluruh tubu tertutup dua keping cangkang yang berhubungan di bagiandorsl
dengan adanya “hinge ligament” yaiyu semacam pita elastik yang terdiri dari
bahan organik seprti zat tanduk conchiolin sama dengan periostrakum, bersambung
dengan periostrakum cangkang.sehingga disebut Bivalvia. Kelas ini mempunyai dua
cangkok yang dapat membuka dan menutup dengan menggunakan otot aduktor dalam
tubuhnya. Cangkok ini berfungsi untuk melindungi tubuh. Cangkok di bagian
dorsal tebal dan di bagian ventral tipis. Kepalanya tidak nampak dan kakinya
berotot.
d. Kelas Scaphopoda
Dentalium vulgare adalah salah satu contoh
kelas Scaphopoda. Jika Anda berjalan-jalan di pantai, hati-hati dengan cangkang
jenis Scaphopoda ini. Karena biasanya hewan ini tumbuh di batu atau benda laut
lainnya yang berbaris menyerupai taring. Coba Anda amati gambar hewan berikut
ini!
Dentalium vulgare hidup di laut dalam pasir atau
lumpur. Hewan ini juga memiliki cangkok yang berbentuk silinder yang kedua
ujungnya terbuka. Panjang tubuhnya sekitar 2,5 s.d 5 cm. Dekat mulut terdapat
tentakel kontraktif bersilia, yaitu alat peraba. Fungsinya untuk menangkap
mikroflora dan mikrofauna. Sirkulasi air untuk pernafasan digerakkan oleh
gerakan kaki dan silia, sementara itu pertukaran gas terjadi di mantel. Hewan
ini mempunyai kelamin terpisah.
e. Kelas Aplacophora
Aplacophora
dalam bahasa yunani yakni plax: lempengan, sehingga anggota kelas ini memiliki
ciri tubuhnya tidak memiliki cangkang. Tubuh berbentuk seperti cacing pada
umumnya berukuran 2, 5 cm, namun ada yang panjang tubuhnya 5 mm. Tubuh memiliki
sisik kalakareus dan spikula sebagai pengganti cangkang. Anggota kelas
aplacophora berjumlah 300 spesies. Hewan ini ditemukan di lautan pada kedalaman
7000 m atau pada kedalaman 200- 3000 m. Sebagaian besar hewan ini berjalan
perlahan di dasarlaut dan juga ditemukan meillit pada hydroid atau karang lunak
yang merupakan makanannya. Umumnya Aplacophora bersifat hemafrodit
f. Kelas Monoplacophora
Karakteristik
anggota kelas monoplacophora yaitu memiliki sebuah cangkang dan bersifat
simetri bilateral. Pada awalnya monoplacophora satu kelompok dengan gastropoda,
namun karena cangkang gastropoda memiliki 2 otot etraktor kaki, sedangkan
monoplacophora memiliki 3 sampai 8 pasang sehingga diklasifiklasikansendiri.
Bentuk cangkang bervariasi, ada yang pipih, perisai, atau bentuk kerucut
pendek. Panjang tubuh 3 mm sampai 3 cm. ujung apek cangkang melengkung ke
anterior. Hewan ini berkelamin terpisah dengan 2 pasang gonad yeng terletak
pada pertengahan tubuh. Fertilisasi terjadi secara eksternal, namun
perkembangan selanjutnya belum diketahui.
g. Kelas Polyplacophora
Karakteristik
hewan polyplacophora yaitu meiliki banyak cangkang. Jumlah spesies yang hidup
sampai saat ini berjumlah 800 spesies. Contoh hewan polyplacophora yaitu
chiton. Ukuran tubuh chiton bervariasi mulai 3mm sampai 40 cm, namun umumnya
berukuran 3- 12 cm. spesies chiton yang memiliki ukuran tubuh terbesar adalah Cryptochiton stelleri. Bentuk tubuh
chiton oval, pipih dorso-ventral dan dibagian dorsal tubuh dilindung delapan
keping cangkang yang tersusun tumpang tindih. Cangkang tersebut tersusun atas dua
lapisan yaitu tegmentum (lapisan luar) dan artikulamentum (lapisan dalam).
2.3 Letak Geografis Taman Alas
Purwo (Pantai Pancur)
Taman Nasional Alas Purwo
(Pantai Pancur) adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan
Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Secara
geografis terletak di ujung tenggara Pulau Jawa wilayah pantai selatan antara
8°26’45”–8°47’00” LS dan 114°20’16”–114°36’00” BT.
2.4 Pola
Penyebaran dan Faktor Abiotik Mollusca
Penyebaran hewan Mollusca sangat luas dan umumnya
memiliki kesamaan pola dasar tubuh. Mollusca adalah salah satu jenis organisme
yang memiliki rentangan habitat yang cukup lebar mulai dari dasar laut sampai
garis pasang surut tertinggi. Selain itu ada yang hidup di air tawar bahkan
terkadang ditemukan di habitat terestrial, khususnya yang memiliki kelembaban
tinggi. Sifat hidup Mollusca bervariasi, ada yang hidup bebas namun beberapa
spesies lainnya bersifat parasit pada organisme lain. Keberagaman spesies yang ditemukan pada suatu wilayah tertentu
menunjukkan kondisi positif keberlangsungan makhluk hidup dari jenis tersebut (Nurhadi,1999).
Komunitas
lingkungan yang bagus mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi dari pada
komunitas yang dipengaruhi oleh gangguan-gangguan musiman atau secara periodik
oleh manusia dan alam (Nazlim, 1999).
Mollusca
memiliki kapasitas adaptasi yang tinggi sehingga penyebarannya sangat luas,
baik di darat maupun di perairan, mulai dari perairan yang dangkal termasuk
pantai, estuaria adalah perairan tawar sampai kedalaman laut yang tidak dapat
ditembus cahaya matahari. Keberadaan hewan Mollusca ini tergantung pada variasi
faktor lingkungan habitatnya (Asiyah, 1999). Lingkungan pantai selalu
berubah–ubah karena pasang surut sehingga banyak ditemukan variasi kehidupan
dalam jumlah spesies maupun organismenya (Darmawan, 2004).
Komunitas
lingkungan yang mantap mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi daripada
komunitas yang dipengaruhi oleh gangguan-gangguan musiman atau secara periodik
oleh manusia dan alam (Odum,1993). Perbedaan kepadatan jenis mollusca antar
lokasi menggambarkan kesesuaian jenis mollusca terhadap kondisi fisik, kimia
pada masing-masing lokasi (Nurhadi, 1999).
Kondisi lingkungan
yang cocok atau tidak bagi kehidupan mollusca akan terlihat dalam bentuk akhir
yaitu mengenai kelimpahan organisme ini dalam hal kekayaan pada lokasi tersebut
(Nazlim, 1999).
Mollusca ini banyak terdapat di lumpur, pasir, dan di
danau. Dimana pada lumpur, pasir, dan danau ini banyak mengakumulasi bahan
organik yang dapat dijadikan sebagai bahan makanan. Mollusca ini biasanya
menguburkan diri dan pada saat tertentu mereka pindah dari satu tempat ke
tempat lain, hal ini berkaitan dengan adaptasi untuk mendapatkan makanan guna
melangsungkan hidupnya dan juga untuk menghindari diri dari predator (Nurhadi,
1999). Mollusca ini dapat hidup pada suhu yang berkisar antara 0-40 karena pada
suhu itu hewan mampu hidup aktif, sedangkan untuk pH 4.5-5, dan untuk
kelembaban serta salinitas hewan ini dapat hidup pada kondisi yang normal
(Asiyah, 1999).
Faktor Abiotik Yang Mempengaruhi Keberagaman Organisme Di
Zona Intertidal yaitu suhu, substrat, salinitas, pH, kelembaban, aksi ombak dan arus.
Sedangakan Faktor Biotik Yang Mempengaruhi Keberagaman
Organisme Di Zona Intertidal :
1.
Potensial biotik
pada fase-fase tertentu selalu akan mengalami hambatan oleh berbagai macam
persaingan yang antara lain berupa persaingan (kompetisi), predasi, penyakit,
sumber daya makanan (Asiyah, 1999).
2.
Adanya interaksi
yang bersifat persaingan sering melibatkan ruangan, unsur hara, bahan-bahan
buangan atau sisa penyakit dan sebagainya dan banyak tipe interaksi timbal
balik bersama (Odum, 1993).
3. Dominansi hewan pantai yang menguasai ruang tertentu,
suatu saat akan diambil alih oleh spesies yang lain karena adanya predator
hewan, dominan yang pertama. Sehingga secara efektif predator akan mencegah dan
mengurangi, mendominasikan pertama yang menempati seluruh ruang (Odum, 1993).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu :
Sabtu, 25 Maret 2017
Tempat :
Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
·
Plastik sampel
·
Botol plakon
·
Tali rafia
·
Pinset
·
Kuadrat 1 x 1
·
pH meter
·
Multiparameter
Bahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah :
·
Akuades
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Langkah pertama yaitu menentukan lokasi pengambilan sampel dengan langkah
sebagai berikut :
1.
Menentukan tempat pengambilan sampel. Dalam penelitian ini ditentukan 5
zona dalam 24 transek
2.
Setelah menentukan transek untuk setiap kelompok kemudian menarik garis
lurus yang dijadikan sebagai batas transek
3.
Dari transek tersebut dibuat 3 plot yang berukuran 1 x 1 m dengan jarak
antar plot 1 m
Langkah
yang kedua yaitu cara pengambilan sampel dengan langkah sebagai berikut :
1.
Mengambil sampel pada tiap plot dengan mencatat tiap jenis Mollusca yang
ditemukan dan dihitung jumlahnya
2.
Untuk keperluan identifikasi diambil hanya satu spesies yang ditemukan dan
dimasukkan ke dalam botol plakon dan ditandai dengan huruf abjad
Langkah
yang ketiga yaitu pengukuran abiotik dengan langkah sebagai berikut :
1.
Mengukur faktor abiotiknya seperti suhu, DO, salinitas, kekeruhan, pH,
intensitas cahaya, dan kecepatan angin.
Langkah
yang terakhir yaitu pembuatan hasil laporan dengan langkah seperti berikut :
1.
Mengidentifikasi spesies yang sudah ditemukan
2.
Mengadakan kompilasi data dan membuat laporan hasil penelitian
3.4 Teknik Analisis Data
Dari hasil penelitian
dianalisis secara statistik untuk mendapatkan :
1.
Indeks Keanekaragaman Shannon dan Wienner (H’)
H` = - 
Keterangan :
H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner
N = Total semua jenis individu dalam komunitas
ni = Jumlah indivdu jenis ke – i
pi = Kelimpahan proporsional
2.
Nilai Evennes atau kemerataan (E)
E = 
Keterangan :
E = Evenness atau kemerataan
H’ = Indeks keanekaragaman
S = Jumlah spesies
3. Nilai Richness atau kekayaan (R)
R = 
Keterangan :
R = Richness atau
kekayaan
S = Banyaknya
spesies
N = Total semua
jens individu dalam komunitas
3.5 Sketsa![]() |
|||
![]() |
|||
BAB IV
DATA DAN ANALISIS
4.1 Hasil
Pengamatan
Data yang dipaparkan berikut
merupakan data yang telah dikompilasi dan telah dihitung satu angkatan. Dari
hasil didapatkan dari pengambila sampel, didapatkan data per zona sebagai
berikut :
Tabel 4.1.1. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada
Zona Batu Besar
|
No.
|
Nama Spesies
|
Jumlah
|
|
1.
|
Planaxis sulcatus
|
28
|
|
2.
|
Nerita undata
|
219
|
|
3.
|
Hexaplex sp
|
30
|
|
4.
|
Nerita planospira
|
236 (Dominasi)
|
|
5.
|
Nertita sp 1
|
128
|
|
6.
|
Conusebraeus sp.
|
19
|
|
7.
|
Monodonta sp.
|
15
|
|
8.
|
Patella sp.
|
10
|
|
9.
|
Nerita sp 2
|
7
|
|
10.
|
Chlamys sp.
|
3
|
|
11.
|
Cymatium dolarium
|
6
|
|
12.
|
Cellana sp.
|
1
|
|
13.
|
Lyria sp.
|
4
|
|
14.
|
Ovatella sp.
|
2
|
|
15.
|
Trochus sp.
|
9
|
|
Total
|
717
|
|
Tabel 4.1.2
Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Besar
|
Suhu
|
34,6°C
|
|
DO
|
0,81
|
|
Salinitas
|
3 gr/100 Nacl
|
|
Kekeruhan
|
45 mg/C
|
|
pH
|
-
|
|
Intensitas Cahaya
|
337 x 100
|
|
Konduktivitas
|
-
|
|
Kecepatan Angin
|
2,23 m/s
|
|
Kelembaban
|
61,50%
|
Tabel 4.1.3. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada
Zona Batu Kecil
|
No.
|
Nama Spesies
|
Jumlah
|
|
1.
|
Mitra litterata
|
2
|
|
2.
|
Fulgiconus exiguus bougei
|
3
|
|
3.
|
Planaxis sulcatus
|
45
|
|
4.
|
Nerita undata
|
74
|
|
5.
|
Caminella sp.
|
34
|
|
6.
|
Hexaplex sp
|
5
|
|
7.
|
Nerita planospira
|
75 (Dominasi)
|
|
8.
|
Astraea sp.
|
4
|
|
9.
|
Nertita sp 1
|
10
|
|
10.
|
Conusebraeus sp.
|
1
|
|
11.
|
Monodonta sp.
|
7
|
|
12.
|
Patella sp.
|
3
|
|
13.
|
Nerita sp 2
|
24
|
|
14.
|
Enigma sp.
|
5
|
|
15.
|
Patella barbara
|
2
|
|
Total
|
294
|
|
Tabel 4.1.4
Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Kecil
|
Suhu
|
32,47°C
|
|
DO
|
6,81
|
|
Salinitas
|
4,7 gr/100 Nacl
|
|
Kekeruhan
|
12,67 mg/C
|
|
pH
|
-
|
|
Intensitas Cahaya
|
434 x 100
|
|
Konduktivitas
|
-
|
|
Kecepatan Angin
|
1,99
|
Tabel 4.1.5. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Alga
|
No.
|
Nama Spesies
|
Jumlah
|
|
1.
|
Mitra litterata
|
15
|
|
2.
|
Fulgiconus exiguus bougei
|
2
|
|
3.
|
Planaxis sulcatus
|
21
|
|
4.
|
Nerita undata
|
25
|
|
5.
|
Hexaplex sp
|
12
|
|
6.
|
Nerita planospira
|
5
|
|
7.
|
Nertita sp 1
|
5
|
|
8.
|
Conusebraeus sp.
|
3
|
|
9.
|
Monodonta sp.
|
6
|
|
10.
|
Patella sp.
|
60 (Dominasi)
|
|
11.
|
Nerita sp 2
|
3
|
|
12.
|
Cypraea stercoraria
|
1
|
|
13.
|
Lyria sp. 1
|
2
|
|
Total
|
162
|
|
Tabel 4.1.6
Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Alga
|
Suhu
|
39,1°C
|
|
DO
|
8,4
|
|
Salinitas
|
4,0 gr/100 Nacl
|
|
Kekeruhan
|
4 mg/C
|
|
pH
|
8,08
|
|
Intensitas Cahaya
|
303 x 100
|
|
Konduktivitas
|
-
|
|
Kecepatan Angin
|
2,93
|
Tabel 4.1.7. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu Lempeng
|
No.
|
Nama Spesies
|
Jumlah
|
|
1.
|
Fulgiconus exiguus bougei
|
2
|
|
2.
|
Nerita undata
|
160
|
|
3.
|
Caminella sp.
|
1
|
|
4.
|
Hexaplex sp
|
19
|
|
5.
|
Nerita planospira
|
215 (Dominasi)
|
|
6.
|
Astraea sp.
|
1
|
|
7.
|
Monodonta sp.
|
7
|
|
8.
|
Patella sp.
|
173
|
|
9.
|
Nerita sp 2
|
14
|
|
10.
|
Chlamys sp.
|
5
|
|
11.
|
Enigma sp.
|
22
|
|
12.
|
Meretrix sp.
|
1
|
|
13.
|
Ranella sp.
|
1
|
|
14.
|
Cymatium dolarium
|
14
|
|
15.
|
Strombus sp.
|
1
|
|
Total
|
641
|
|
Tabel 4.1.8
Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Lempeng
|
Suhu
|
31°C
|
|
DO
|
23,7
|
|
Salinitas
|
4,0 gr/100 Nacl
|
|
Kekeruhan
|
9 mg/C
|
|
pH
|
8,39
|
|
Intensitas Cahaya
|
448 x 100
|
|
Konduktivitas
|
-
|
|
Kecepatan Angin
|
3,21
|
Tabel 4.1.9. Tabel Spesies dan Jumlah yang Ditemukan pada Zona Batu
Berlamun
|
No.
|
Nama Spesies
|
Jumlah
|
|
1.
|
Fulgiconus exiguus bougei
|
9
|
|
2.
|
Planaxis sulcatus
|
15
|
|
3.
|
Nerita undata
|
28 (Dominasi)
|
|
4.
|
Caminella sp.
|
2
|
|
5.
|
Hexaplex sp
|
15
|
|
6.
|
Nerita planospira
|
11
|
|
7.
|
Astraea sp.
|
2
|
|
8.
|
Patella sp.
|
13
|
|
9.
|
Enigma sp.
|
3
|
|
10.
|
Cypraea stercoraria
|
2
|
|
Total
|
100
|
|
Tabel 4.1.10
Tabel Faktor Abiotik Zona Batu Berlamun
|
Suhu
|
31,86°C
|
|
DO
|
6,83
|
|
Salinitas
|
4,67 gr/100 Nacl
|
|
Kekeruhan
|
12,67 mg/C
|
|
pH
|
12,87
|
|
Intensitas Cahaya
|
232 x 100
|
|
Konduktivitas
|
-
|
|
Kecepatan Angin
|
1,99
|
Tabel 4.1.11 Ringkasan Indeks Keanekaragaman, Kemerataan, dan Kekayaan
Setiap Zona
|
No
|
Zona
|
H’
|
E
|
R
|
|
1.
|
Batu Besar
|
1,749366303
|
0,645987398
|
2,129253006
|
|
2.
|
Batu Kecil
|
2,018842256
|
0,745496614
|
2,463236301
|
|
3.
|
Batu Alga
|
2,012889
|
0,76273
|
2,555234
|
|
4.
|
Batu Lempeng
|
1,64684
|
0,593972
|
2,320893
|
|
5.
|
Batu Lamun
|
1,990229
|
0,864345279
|
1,954325169
|



BAB V
PEMBAHASAN
5. 1 Jenis Spesies yang Ditemukan
Pada setiap zona ditemukan beberapa spesies, beberapa ada
pada setiap zona, dan lainnya hanya ditemukan pada satu zona. Spesies yang
ditemukan sebagai berikut. Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp., Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp,
Patella sp., Nerita sp 2, Chlamys sp., Cymatium dolarium, Cellana sp.
Lyria sp., Ovatella sp., Trochus sp., Mitra litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Planaxis sulcatus, Caminella sp, Astraea sp., Enigma sp., Cypraea stercoraria, Meretrix sp., Strombus sp., Ranella sp. Hal ini menunjukkan bahwa
Pantai Pancur Alas Purwo memiliki biodiversitas molusca yang cukup banyak.
Nurhadi (1999) menyatakan keberagaman spesies yang ditemukan pada suatu wilayah
tertentu menunjukkan kondisi positif keberlangsungan makhluk hidup dari jenis
tersebut.
5. 2 Keanekaragaman
Bedasarkan hasil
analisis keanekeragaman mollusca tertinggi yang terdapat pada Pantai Pancur
Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi berada pada batu kecil yakni sebesar 2,018842256
dan terendah yakni batu lempeng sekitar 1,64684. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi nilai keanekaragamannya (H’) semakin besar diversitas spesies
dalam komunitas. Tingginya kenekaragaman jenis mollusca pada zona batu kecil
didukung oleh adanya kondisi lingkungan abiotik terukur seperti salinitas, pH,
suhu, dan kedalaman substrat yang relatif normal pada zona ini. Kondisi ini
tentunya akan lebih cocok atau sesuai bagi kehidupan mollusca yang ada di
dalamnya.
Menurut Odum (1993)
komunitas lingkungan yang mantap mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi
daripada komunitas yang dipengaruhi oleh gangguan-gangguan musiman atau secara
periodik oleh manusia dan alam. Hal ini menunjukkan bahwa zona batu kecil
memiliki komunitas mollusca yang lebih stabil dibanding zona yang lain.
5.3 Kemerataan
Berdasarkan hasil analisis data
nilai kemerataan tertinggi yakni berada pada zona berlamun sekitar 0,864345279 dan terendah pada zona batu lembpeng sekitar 0,593972. Tingginya nilai kemerataan pada zona tersebut menunjukkan bahwa kondisi
lingkungan dikatakan heterogen. Munculnya perbedaan kemerataan antar semua zona
berarti setiap jenis mollusca yang ditemukan memiliki kesesuaian yang berbeda
terhadap kondisi lingkungan yang ditempatinya. Kadar jumlah tertentu yang
berbeda setiap spesies pada zona berlamun ini memiliki komposisi yang
setimbang, sehingga kemerataannya paling tinggi diantara zona lain. Nurhadi
(1999) menyatakan bahwa perbedaan kepadatan jenis mollusca antar lokasi menggambarkan
kesesuaian jenis mollusca terhadap kondisi fisik, kimia pada masing-masing
lokasi. Zona dengan kemerataan jenis tertinggi menunjukkan bahwa kondisi
lingkungan di setiap zona-zona tersebut merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan
jenis mollusca yang bersangkutan.
5.4 Kekayaan
Bedasarkan hasil analisis data
pada nilai kekayaan tertinggi molusca yakni pada zona batu beralga sekitar 2,555234 dan
terendah yakni pada zona batu lamun sekitar 1,954325169. Tingginya kekayaan jenis mollusca
pada zona batu beralgar didukung oleh adanya kondisi lingkungan abiotik terukur
seperti salinitas, pH, suhu, dan kedalaman substrat yang relatif normal pada
zona ini. Kondisi ini tentunya lebih cocok atau sesuai bagi kehidupan mollusca
yang ada di dalamnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nazlim (1999) bahwa
kondisi lingkungan yang cocok atau tidak bagi kehidupan mollusca akan terlihat
dalam bentuk akhir yaitu mengenai kelimpahan organisme ini dalam hal kekayaan
pada lokasi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa zona batu beralga memiliki
komunitas mollusca yang lebih stabil dibanding zona yang lain.
5.5 Dominansi spesies
Pada seluruh zona dominansi berasal dari genus Nerita
khususnya Nerita planospira yakni
mendominasi pada zona batu besar, batu kecil, batu lempeng, Nerita undata pada zona batu berlamun,
tetapi pada zona batu beralga didominasi oleh Patella sp. Menurut Nazlim (1999) komunitas lingkungan yang bagus
mempunyai keanekaragaman yang lebih tinggi dari pada komunitas yang dipengaruhi
oleh gangguan-gangguan musiman atau secara periodik oleh manusia dan alam. Hal
ini menunjukkan bahwa pada spesies yang ternyata memiliki jumlah yang tinggi
memiliki komunitas Mollusca yang lebih stabil dibanding spesies yang lain.
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1.
Spesies yang ditemukan pada pantai pancur seperti berikut yakni : Planaxis sulcatus, Nerita undata, Hexaplex sp., Nerita planospira, Nertita sp 1, Conusebraeus sp., Monodonta sp,
Patella sp., Nerita sp 2, Chlamys sp., Cymatium dolarium, Cellana sp.
Lyria sp., Ovatella sp., Trochus sp., Mitra litterata, Fulgiconus exiguus bougei, Planaxis sulcatus, Caminella sp, Astraea sp., Enigma sp., Cypraea stercoraria, Meretrix sp., Strombus sp., Ranella sp.
2.
- Keanekeragaman mollusca tertinggi yang terdapat pada Pantai Pancur Taman
Nasional Alas Purwo Banyuwangi berada pada batu kecil yakni sebesar 2,018842256
dan terendah yakni batu lempeng sekitar 1,64684.
- Kemerataan tertinggi yakni berada pada zona berlamun
sekitar 0,864345279 dan terendah pada zona batu lembpeng sekitar 0,593972.
- Kekayaan tertinggi molusca yakni pada zona batu beralga
sekitar 2,555234 dan terendah yakni pada zona batu lamun
sekitar 1,954325169.
3.
- Nerita planospira mendominasi pada zona batu
besar, batu kecil, batu lempeng.
- Nerita undata pada zona batu berlamun.
- Patella sp. mendominasi zona batu
beralga.
6.2 Saran
1.
Sebaiknya waktu pengamatan dilakukan pada waktu yang sesuai dan
diperhitungkan agar proses mencari mollusca bisa maksimal
2.
Sebaiknya alat abiotik yang digunakan harus lengkap.



mungkin bisa diberikan pengantar bagaimana pengamatannya ;)
BalasHapusSudah baik.. diperhatikan lagi penulisannya yaa. Semangatt
BalasHapusnice post, you can add some citation, bro
BalasHapussudah baik, tetapi akan lebih baik disertai gambar
BalasHapus